RSS

SEJARAH SASTRA INDONESIA

     SEJARAH SASTRA INDONESIA

    Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah “Indonesia” sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.
    Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.
    Sastra tidaklah lahir dari sebuah kekosongan. Ia mengada setelah melewati proses yang rumit yang berkaitan dengan persoalan sosio-budaya, politik, ekonomi, bahkan juga ideology dan agama. Jadi, ketika karya sastra terbit, beredar, dan kemudian dibaca masyarakat, di belakang itu ia sesungguhnya menyimpan sejarahnya sendiri. Ada kontekstualitas antara teks dan berbagai persoalan yang melatarbelakanginya. Maka, ketika kita coba mengungkapkan problem yang melatarbelakanginya itu tidak terhindarkan , kita terpaksa mencantelkan teks itu dengan konteksnya, Dengan persoalan yang berada di luar teks. Di situlah akan terungkap, betapa karya sastra dilahirkan tidak semata-mata mengada lantaran telah terjadi proses kreatif pengarangnya , melainkan juga karena faktor lain di luar itu yang justru menyimpan problem sosio-kultural , politik , ekonomi dan ideologi. Di bawah ini merupakan periodisasi sastra Indonesia. Secara umum, periodisasi sastra Indonesia dapat dipaparkan sebagai berikut :
    1. Sastra melayu :
    • Satra jaman purba
    • Satra pengaruh Hindu
    • Sastra pengaruh Islam
    1. Sastra Indonesia Baru :
    • Satra Siti Nurbaya ( angkatan 20 )
    • Sastra Kebangsaan ( angkatan 33 )
    • Sastra Chairil Anwar ( angkatan 45 )
    • Sastra H.B Jasin ( angkatan 66 )
    • Sastra Percintaan ( angkatan 80 )
    • Sastra Reformasi (angkatan 90- )
    Dua periodisasi sastra Indonesia di atas merupakan perjalanan satra Indonesia sejak jaman dahulu hingga jaman sekarang ini. Di bawah ini adalah penjabaran dua periodisasi sastra Indonesia dia atas.


    1. Sastra Melayu
    Sastra Melayu muncul sejak bahasa Melayu itu sendiri muncul pertama kali. Bahasa Melayu berasal dari daerah Riau dan Malaka, berkembang dan menyebar ke seluruh pelosok nusantara dibawa oleh pedagang. Satra Melayu merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.
    Satra Melayu adalah karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 – 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti “Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya”, orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.
    1. Prosa dan Puisi
    Pada ragam karya sastra puisi, Sastra Melayu yang pertama berbentuk mantera, pantun, syair. Kemudian, bermunculan pantun kilat (karmina), seloka, talibun, dan gurindam. Sedangkan pada ragam karya sastra prosa, Sastra Melayu yang pertama berbentuk cerita-cerita pelipur lara, dan dongeng-dongeng. Dongeng meliputi legenda, sage, fabel, parabel, mite, dan cerita jenaka atau orang-orang malang/pandir.Bahkan, ragam karya sastra melayu ada yang berbentuk hikayat, tambo, cerita berbingkai, dan wiracarita (cerita panji). Pada cerita dongeng sering isinya mengenai cerita kerajaan (istanasentris) dan fantastis. Kadang-kadang cerita tersebut di luar jangkuan akal manusia (pralogis).
    Sebelum masyarakat Melayu mengenal tulisan, karya-karya sastra tersebut disampaikan secara lisan kurang lebih tahun 1500. Penyebarannya hanya dari mulut ke mulut dan bersifat statis. Namun, setelah masyarakat Melayu mengenal tulisan, karya-karya tersebut mulai dituliskan oleh para ahli sastra masa itu tanpa menyebut pengarangnya dan tanggal penulisannya (anonim).
    Sastra Melayu sangat dipengaruhi oleh sastra Islam sehingga banyak terdapat kata-kata yang sukar karena jarang didengar. Alat penyampainya adalah bahasa Arab-Melayu dengan huruf Arab gundul sehingga sering menimbulkan bahasa yang klise. Di sisi lain, karya-karya sastra yang dihasilkan selalu berisikan hal-hal yang bersifat moral, pendidikan, nasihat, adat-istiadat, dan ajaran-ajaran agama. Cara penulisannya pun terkungkung kuat oleh aturan-aturan klasik, terutama puisi. Aturan-aturan itu meliputi masalah irama, ritme, persajakan atau rima yang teratur. Perhatikan contoh kutipan cerita karya sastra Melayu di bawah ini :
    (1). Tatkala pada zaman Raja Iskandar Zulkarnain, anak Raja Darab, Rum bangsanya, Makaduniah nama negerinya. Berjalan hendak melihat matahari terbit, maka baginda sampai pada sarhad negeri Hindi. Maka ada seorang raja terlalu amat besar kerajaannya. Setengah negeri Hindi dalam tangannya, Raja Kidi Hindi namanya.
    Kutipan cerita tersebut merupakan ragam karya sastra Melayu bidang prosa, khususnya
    bentuk hikayat.


    (2). Sungguh elok asam belimbing
    Tumbuh dekat limau lungga
    Sungguh elok berbibir sumbing
    Walaupun marah tertawa juga
    Pohon padi daunnya tipis
    Pohon nangka berbiji lonjong
    Kalau Budi suka menangis
    Kalau tertawa giginya ompong
    Kutipan di atas termasuk salah satu contoh ragam karya sastra Melayu bidang puisi, khususnya bentuk pantun anak-anak jenaka.
    1. Drama
    Drama di tanah air sudah hidup sejah zaman Melayu. Bahasa yang digunakan masyarakat Melayu pada waktu itu adalah bahasa Melayu Pasar (bahasa Melayu Rendah). Rombongan drama yang terkenal pada masa ini adalah Komedie Stamboel. Komedie Stamboel ini didirikan oleh August Mahieu, Yap Goan Tay, dan Cassim. Kemudian, Komedie ini pecah menjadi Komedie Opera Stamboel, Opera Permata Stamboel, Wilhelmina, Sianar Bintang Hindia.
    Naskah drama yang pertama kali ditulis berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. Lakon drama ini ditulis oleh F. Wiggers tahun 1901.

    1. Sastra Indonesia Baru
    Sastra Indonesia modern adalah sastra yang berkembang setelah pertemuan dengan kebudayaan Eropa dan mendapat pengaruh darinya. Sastra Indonesia Modern dibagi atas :
    1. Sastra Siti Nurbaya ( anggkatan 20 )
    M,engapa sastra Angkatan 20-an ini disebut sebagai sastra Siti Nurbaya sebab pada sast itu karya sastra yang paling fenomenal hingga saat ini adalah roman Siti Nurbaya karya Marah Roesli. Pada masa ini ada suatu badan yang terkenal bentukan dari Pemerintah Belanda pada tahun 1908 yaitu Balai Pustaka. Badan tersebut sebagai penjelmaan dari Commissie voor De Volkslectuur atau Komisi Bacaan Rakyat. Commissie voor De Volkslectuur dibentuk pada tanggal 14 April 1903. Komisi ini bertugas menyediakan bahan-bahan bacaan bagi rakyat Indonesia pada saat itu.
    Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
    Penulis dan Karya Sastra Siti Nurbaya ( angkatan 20 ) :
    • Merari Siregar : Azab dan Sengsara (1920) , Binasa kerna Gadis Priangan (1931) Cinta dan Hawa Nafsu.
    • Marah Roesli : Siti Nurbaya (1922) , La Hami (1924) , Anak dan Kemenakan (1956).
    • Muhammad Yamin : Tanah Air (1922) , Indonesia, Tumpah Darahku (1928) , Kalau Dewi Tara Sudah Berkata , Ken Arok dan Ken Dedes (1934).
    • Nur Sutan Iskandar : Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923) , Cinta yang Membawa Maut (1926) , Salah Pilihan (1928) , Karena Mentua (1932) , Tuba Dibalas dengan Susu (1933) , Hulubalang Raja (1934) , Katak Hendak Menjadi Lembu (1935).
    • Sutan Sati : Tak Disangka (1923) , Sengsara Membawa Nikmat (1928) , Tak Membalas Guna (1932) , Memutuskan Pertalian (1932).
    • Djamaluddin Adinegoro : Darah Muda (1927) Asmara Jaya (1928).
    • Abas Soetan Pamoentjak : Pertemuan (1927).
    • Abdul Muis : Salah Asuhan (1928) , Pertemuan Djodoh (1933).
    • Aman Datuk Madjoindo : Menebus Dosa (1932) , Si Cebol Rindukan Bulan (1934) , Sampaikan Salamku Kepadanya (1935).
    Balai Pustaka menyelenggarakan penerbitan buku-buku dan mengadakan taman-taman perpustakaan, dan menerbitkan majalah.. Penerbitan majalah dilakukan satu atau dua minggu sekali. Adapun majalah-majalah yang diterbitkan yaitu:
    (1). Sari Pustaka (dalam Bahasa Melayu, 1919)
    (2). Panji Pustaka (dalam Bahasa Melayu, 1923)
    (3). Kejawen (dalam Bahasa Jawa)
    (4). Parahiangan (dalam Bahasa Sunda)
    Ketiga majalah yang terakhir itu terbit sampai pemerintah Hindia Belanda runtuh.
    Lahirnya Balai Pustaka sangat menguntungkan kehidupan dan perkembangan sastra di tanah air baik bidang prosa, puisi, dan drama. Peristiwa- peristiwa sosial, kehidupan adat-istiadat, kehidupan agama, ataupun peristiwa kehidupan masyarakat lainnya banyak yang direkam dalam buku-buku sastra yang terbit pada masa itu. Lahirnya angkatan 20 (Siti Nurbaya) mempengaruhi beberapa ragam karya sastra diantaranya:
    1. P rosa
    • Roman
    Pada ragam karya sastra prosa timbul genre baru ialah roman, yang sebelumnya belum pernah ada. Buku roman pertama Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Pustaka berjudul Azab dan Sengsara karya Merari Siregar pada tahun 1920. Roman Azab dan Sengsara ini oleh para ahli dianggap sebagai roman pertama lahirnya sastra Indonesia. Isi roman Azab dan Sengsara sudah tidak lagi menceritakan hal-hal yang fantastis dan istanasentris, melainkan lukisan tentang hal-hal yang benar terjadi dalam masyarakat yang dimintakan perhatian kepada golongan orang tua tentang akibat kawin paksa dan masalah adat.
    Genre roman mencapai puncak yang sesungguhnya ketika diterbitkan buku Siti Nurbaya karya Marah Rusli pada tahun 1922. Pengarang tidak hanya mempersoalkan masalah yang nyata saja, tapi mengemukakan manusia-manusia yang hidup. Pada roman Siti Nurbaya tidak hanya melukiskan percintaan saja, juga mempersoalkan poligami, membangga-banggakan kebangsawanan, adat yang sudah tidak sesuai dengan zamannya, persamaan hak antara wanita dan pria dalam menentukan jodohnya, anggapan bahwa asal ada uang segala maksud tentu tercapai. Persoalan-persoalan itulah yang ada di masyarakat.
    Sesudah itu, tambah membanjirlah buku-buku atau berpuluh-puluh pengarang yang pada umumnya menghasilkan roman yang temanya mengarah- arah Siti Nurbaya. Golongan sastrawan itulah yang dikenal sebagai Generasi Balai Pustaka atau Angkatan 20. Genre prosa hasil Angkatan 20 ini mula-mula sebagian besar berupa roman. Kemudian, muncul pula cerpen dan drama.
    • Cerpen
    Sebagian besar cerpen Angkatan 20 muncul sesudah tahun 1930, ketika motif kawin paksa dan masalah adat sudah tidak demikan hangat lagi, serta dalam pertentangan antara golongan tua dan golongan muda praktis golongan muda menang. Bahan cerita diambil dari kehidupan sehari-hari secara ringan karena bacaan hiburan. Cerita-cerita pendek itu mencerminkan kehidupan masyarakat dengan suka dukanya yang bersifat humor dan sering berupa kritik.
    Kebanyakan dari cerita-cerita pendek itu mula-mula dimuat dalam majalah seperti Panji Pustaka dan Pedoman Masyarakat, kemudian banyak yang dikumpulkan menjadi kitab. Misalnya:
    (1).Teman Duduk karya Muhammad kasim
    (2).Kawan bergelut karya Suman H.S.
    (3).Di Dalam Lembah Kehidupan karya Hamka
    (4).Taman Penghibur Hati karya Saadah Aim
    Dengan demikian, ciri-ciri angkatan 20 pada ragam karya sastra prosa:
    (1). Menggambarkan pertentangan paham antara kaum muda dan kaum tua.
    (2). Menggambarkan persoalan adat dan kawin paksa termasuk permaduan.
    (3). Adanya kebangsaan yang belum maju masih bersifat kedaerahan.
    (4). Banyak menggunakan bahasa percakapan dan mengakibatkan bahasa tidak terpelihara kebakuannya.
    (5). Adanya analisis jiwa.
    (6). Adanya kontra pertentangan antara kebangsawanan pikiran dengan kebangsawanan daerah.
    (7). Kontra antarpandangan hidup baru dengan kebangsawanan daerah.
    (8). Cerita bermain pada zamannya.
    (9). Pada umumnya, roman angkatan 20 mengambil bahan cerita dari Minangkabau, sebab pengarang banyak berasal dari daerah sana.
    (10). Kalimat-kalimatnya panjang-panjang dan masih banyak menggunakan perbandingan-perbandingan, pepatah, dan ungkapan-ungkapan klise.
    (11). Corak lukisannya adalah romantis sentimentil. Angkatan 20 melukiskan segala sesuatu yang diperjungkan secara berlebih-lebihan.




    • Drama
    Pada masa angkatan 20 mulai terdapat drama, seperti:
    Bebasari karya Rustam Efendi. Bebasari merupakan drama bersajak yang diterbitkan pada tahun 1920. Di samping itu, Bebasari merupakan drama satire tentang tidak enaknya dijajah Belanda. Pembalasannya karya Saadah Alim merupakan drama pembelaan terhadap adat dan reaksi terhadap sikap kebarat-baratan. Gadis Modern karya Adlim Afandi merupakan drama koreksi terhadap ekses- ekses pendidikan modern dan reaksi terhadap sikap kebarat-baratan, tetapi penulis tetap membela kawin atas dasar cinta. Ken arok dan Ken Dedes karya Moh. Yamin merupakan drama saduran dari Pararaton. Menantikan Surat dari Raja karya Moh. Yamin merupakan drama saduran dari karangan Rabindranath Tagore. Kalau Dewi Tara Sudah Berkata karya Moh. Yamin.
    2. Puisi
    Sebagian besar angkatan 20 menyukai bentuk puisi lama (syair dan pantun), tetapi golongan muda sudah tidak menyukai lagi. Golongan muda lebih menginginkan puisi yang merupakan pancaran jiwanya sehingga mereka mulai menyindirkan nyanyian sukma dan jeritan jiwa melalui majalah Timbul, majalah PBI, majalah Jong Soematra.
    Perintis puisi baru pada masa angkatan 20 adalah Mr. Moh. Yamin. Beliau dipandang sebagai penyair Indonesia baru yang pertama karena ia mengadakan pembaharuan puisi Indonesia. Pembaharuannya dapat dilihat dalam kumpulan puisinya Tanah Air pada tahun 1922.
    Pengarang berikutnya pada masa angkatan 20 di bidang puisi adalah Rustam Effendi.Rustam Effendi dipandang sebagai tokoh peralihan.Rustam Effendi bersama Mr. Muh. Yamin mengenalkan puisi baru, yang disebut soneta sehingga beliau dianggap sebagai pembawa soneta di Indonesia. Kumpulan sajak yang ditulis oleh Rustam Effendi pada tahun 1924 adalah Percikan Permenungan.
    Penyair berikutnya adalah Sanusi Pane. Beliau menciptakan 3 buah kumpulan sajak, yaitu:
    (1). Pancaran Cinta (seberkas prosa lirik, 1926)
    (2). Puspa Mega (1927)
    (3). Madah Kelana (1931)
    Sajak yang pertama kali dibuat adalah Tanah Airku (1921), dimuat dalam majalah sekolah Yong Sumatra.
    Dengan demikian, ciri-ciri puisi pada periode angkatan 20, yaitu:
    (1). Masih banyak berbentuk syair dan pantun.
    (2). Puisi bersifat dikdaktis.
    1. Sastra Kebangsaan ( angkatan 33 )
    Pada masa ini disebut juga dengan Sastra Kebangsaan sebab pada masa ini karya sastra yang tercita sebagian besar bertemakan kebangsaan. Pada masa sastra kebangsaan ( angkatan 33 ) ini majalah yang terkenal adalah Pujangga Baru yang muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis. Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 – 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana dkk.
    Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu : Kelompok “Seni untuk Seni” yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah dan Kelompok “Seni untuk Pembangunan Masyarakat” yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi. Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru :
    • Sutan Takdir Alisjahbana : Dian Tak Kunjung Padam (1932) , Tebaran Mega kumpulan sajak (1935) , Layar Terkembang (1936) , Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)
    • Hamka : Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938) , Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939) , Tuan Direktur (1950) , Didalam Lembah Kehidoepan (1940)
    • Armijn Pane : Belenggu (1940) , Jiwa Berjiwa ,Gamelan Djiwa – kumpulan sajak (1960) ,Djinak-djinak Merpati – sandiwara (1950) ,Kisah Antara Manusia – kumpulan cerpen (1953)
    • Sanusi Pane : Pancaran Cinta (1926) ,Puspa Mega (1927) ,Madah Kelana (1931) ,Sandhyakala Ning Majapahit (1933) ,Kertajaya (1932)
    • Tengku Amir Hamzah : Nyanyi Sunyi (1937) ,Begawat Gita (1933) ,Setanggi Timur (1939)
    • Sariamin Ismail :Kalau Tak Untung (1933) ,Pengaruh Keadaan (1937) ,Anak Agung Pandji Tisna ,Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935) ,Sukreni Gadis Bali (1936) ,I Swasta Setahun di Bedahulu (1938) ,J.E.Tatengkeng ,Rindoe Dendam (1934)
    • Fatimah Hasan Delais :Kehilangan Mestika (1935)
    Angkatan ini berlangsung mulai 1933 – 1942 (Masa penjajahan Jepang). Karya-karya sastra yang lahir dalam angkatan ini mulai memancarkan jiwa yang dinamis, individualistis, dan tidak terikat dengan tradisi, serta seni harus berorientasi pada kepentingan masyarakat. Di samping itu, kebudayaan yang dianut masyarakat adalah kebudayaan dinamis. Kebudayaan tersebut merupakan gabungan antara kebudayaan barat dan kebudayaan timur sehingga sifat kebudayaan Indonesia menjadi universal. Genre prosa Angkatan 33 (Pujangga Baru) berupa:
    • Roman
    Roman pada angkatan 33 ini banyak menggunakan bahasa individual, pengarang membiarkan pembaca mengambil simpulan sendiri, pelaku-pelaku hidup/ bergerak, pembaca seolah-olah diseret ke dalam suasana pikiran pelaku- pelakunya, mengutamakan jalan pikiran dan kehidupan pelaku-pelakunya. Dengan kata lain, hampir semua buku roman angkatan ini mengutamakan psikologi. Isi roman angkatan ini tentang segala persoalan yang menjadi cita-cita sesuai dengan semangat kebangunan bangsa Indonesia pada waktu itu, seperti politik, ekonomi, sosial, filsafat, agama, kebudayaan.Di sisi lain, corak lukisannya bersifat romantis idealistis.
    Contoh roman pada angkatan ini, yaitu Belenggu karya Armyn Pane (1940) dan Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana. Di samping itu, ada karya roman lainnya, diantaranya Hulubalang Raja (Nur Sutan Iskandar, 1934), Katak Hendak Menjadi Lembu (Nur Sutan Iskandar, 1935), Kehilangan Mestika (Hamidah, 1935), Ni Rawit (I Gusti Nyoman, 1935), Sukreni Gadis Bali (Panji Tisna, 1935), Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka, 1936), I Swasta Setahun di Bendahulu (I Gusti Nyoman dan Panji Tisna, 1938), Andang Teruna (Soetomo Djauhar Arifin, 1941), Pahlawan Minahasa (M.R.Dajoh, 1941).
    • Novel dan Cerpen
    Kalangan sastra Kebangsaan (angkatan 33) tidak banyak menghasilkan novel/cerpen.
    Beberapa pengarang tersebut, antara lain:
    (1). Armyn Pane dengan cerpennya Barang Tiada Berharga dan Lupa.
    Cerpen itu dikumpulkan dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Kisah Antara Manusia (1953).
    (2). Sutan Takdir Alisyahbana dengan cerpennya Panji Pustaka.
    • Essay dan Kritik
    Sesuai dengan persatuan dan timbulnya kesadaran nasional, maka essay pada masa angkatan ini mengupas soal bahasa, kesusastraan, kebudayaan, pengaruh barat, soal-soal masyarakat umumnya.Semua itu menuju keindonesiaan. Essayist yang paling produktif di kalangan Pujangga Baru adalah STA.Selain itu, pengarang essay lainnya adalah Sanusi Pane dengan essai Persatuan Indonesia, Armyn Pane dengan essai Mengapa Pengarang Modern Suka Mematikan, Sutan Syahrir dengan essai Kesusasteraan dengan Rakyat, Dr. M. Amir dengan essai Sampai di Mana Kemajuan Kita.
    • Drama
    Angkatan 33 menghasilkan drama berdasarkan kejadian yang menunjukkan kebesaran dalam sejarah Indonesia. Hal ini merupakan perwujudan tentang anjuran mempelajari sejarah kebudayaan dan bahasa sendiri untuk menanam rasa kebangsaan. Drama angkatan 33 ini mengandung semangat romantik dan idealisme, lari dari realita kehidupan masa penjjahan tapi bercita-cita hendak melahirkan yang baru , Contoh:
    Sandhyakala ning Majapahit karya Sanusi Pane (1933)
    Ken Arok dan Ken Dedes karya Moh. Yamin (1934)
    Nyai Lenggang Kencana karya Arymne Pane (1936)
    Lukisan Masa karya Arymne Pane (1937)
    Manusia Baru karya Sanusi Pane (1940)
    Airlangga karya Moh. Yamin (1943)
    • Puisi
    Isi puisi angkatan 33 ini lebih memancarkan peranan kebangsaan, cinta kepada tanah air, antikolonialis, dan kesadaran nasional. Akan tetapi, bagaimanapun usahanya untuk bebas, ternyata dalam puisi angkatan ini masih terikat jumlah baris tiap bait dan nama puisinya berdasarkan jumlah baris tiap baitnya, seperti distichon (2 seuntai), terzina (3 seuntai), kwatryn (4 seuntai), quint (5 seuntai), sektet (6 seuntai), septima (7 seuntai), oktav (8 seuntai). Bahkan, ada juga yang gemar dalam bentuk soneta. Hal tersebut tampak dalam kumpulan sanjak:
    Puspa Mega karya Sanusi Pane
    Madah Kelana karya Sanusi Pane
    Tebaran Mega karya STA
    Buah Rindu karya Amir Hamzah
    Nyanyi Sunyi karya Amir Hamzah
    Percikan Pemenungan karya Rustam effendi
    Rindu Dendam karya J.E. Tatengkeng
    Tokoh yang terkenal sebagai raja penyair Pujangga Baru dan Penyair Islam adalah Amir Hamzah. Kumpulan sanjaknya adalah Buah Rindu, Nyanyi Sunyi, dan Setanggi Timur.
    Dengan demikian, ciri-ciri angkatan 33 ini yaitu:
    (1). Tema utama adalah persatuan
    (2). Beraliran Romantis Idialis.
    (3). Dipengaruhi angkatan 80 dari negeri Bewlanda.
    (4). Genre sastra yang paling banya adalah roman, novel, esai, dan sebagainya.
    (5). Karya sastra yang paling menonjol adalah Layar Terkembang.
    (6). Bentuk puisi dan prosa lebih terikat oleh kaidah-kaidah.
    (7). Isi bercorak idealisme
    (8). Mementingkan penggunaan bahasa yang indah-indah.
    1. Sastra Chairil Anwar ( angkatan 45 )
    Angkatan 45 disebut juga sebagai Angkatan Chairil Anwar atau angkatan kemerdekaan. Pelopor Angkatan 45 pada bidang puisi adalah Chairil Anwar, sedangkan pelopor Angkatan 45 pada bidang prosa adalah Idrus. Karya Idus yang terkenal adalah Corat-Coret di Bawah Tanah
    Karya-karya yang lahir pada masa angkatan 45 ini sangat berbeda dari karya sastra masa sebelumnya. Ciri khas angkatan 45 ini yaitu bebas, individualistis, universalistik, realistik, futuristik. Karya sastra pada masa angkatan 45 ini adalah Deru Campur Debu (kumpulan puisi, 1949), Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Luput (kumpulan puisi, 1949), Tiga Menguak Takdir (kumpulan puisi, 1950). Ketiga karya tersebut diciptakan oleh Chairil Anwar. Di samping itu, karya sastra angkatan 45 lain adalah Surat Kertas hijau (kumpulan puisi) karya Sitor Sitomorang, Bunga Rumah Makan (drama) karya Utuy Tatang Sontani, Sedih dan Gembira (drama) karya Usmar Ismail, Surat Singkat Tentang Essai (buku kumpulan Essai) karya Asrul Sani, Kesusasteraan Indonesia Modern Dalam Kritik dan Essai (Kupasan kritik dan essai tentang sastra Indonesia) karya H.B.Jassin, Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma (kumpulan cerpen) karya Idrus, Atheis (roman) karya Achdiat Karta Miharja, Chairil anwar.
    1. Sastra H.B Jasin ( angkatan 66 )
    Nama angkatan 66 dikemukakan oleh H.B.Jassin oleh karena itulah diberi nama sastra H.B Jasin. Angkatan 66 muncul di tengah-tengah keadaan politik bangsa Indonesia yang sedang kacau. Kekacauan politik itu terjadi karena adanya teror PKI. Akibat kekacauan politik itu, membuat keadaan bangsa Indonesia kacau dalam bidang kesenian dan kesusatraan. Akibatnya kelompok lekra di bawah PKI bersaing dengan kelompok Manikebu yang memegang sendi-sendi kesenian, kedamaian, dan pembangunan bangsa dan Pancasila.
    Ciri-ciri Angkatan 66, yaitu tema protes sosial dan politik, bercorak realisme, mementingkan isi, dan memperhatikan nilai estetis. Karya sastra yang paling dominan pada angkatan 66 ini adalah puisi yang berbau protes. Beberapa karya sastra pada masa angkatan 66 antara lain Tirani (kumpulan puisi) karya Taufik Ismail, Pahlawan Tak dikenal (kumpulan puisi) karya Toto sudarto Bachtiar, Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan puisi) karya W.S. Rendra, Malam Jahanam (drama) karya Motinggo Busye, Kapai-Kapai (drama) karya Arifin C.Noer, Perjalanan Penganten (kisah) karya Ajip Rosidi, Seks sastra kita (Essai) karya Hartoyo Andang Jaya, Pagar Kawat berduri (roman) karya Toha Mohtar, Pelabuhan Hati (roman) karya Titis Basino, Pulang (novel) karya Toha Mochtar, Robohnya Surau Kami (Cerpen) karya A.A. Navis, Merahnya Merah, Koong, Ziarah (novel) karya Iwan simatupang, Burung-Burung Manyar (novel) karya Y.B. Mangunwijaya, Harimau-Hariamau (novel ) karya Mochtar lubis, Hati Yang Damai, Dua Dunia, Pada Sebuah Kapal, La Barka, Namaku Hiroko (novel) karya N.H. Dini.
    1. Satra Percintaan ( angkatan 80 )
    Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan oleh karena itulah disebut dengan satra percintaan. Sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.
    Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
    Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
    Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
    Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat. Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980 :
    • Ahmadun Yosi Herfanda :Ladang Hijau (1980) ,Sajak Penari (1990) ,Sebelum Tertawa Dilarang (1997) ,Fragmen-fragmen Kekalahan (1997) ,Sembahyang Rumputan (1997).
    • Y.B Mangunwijaya :Burung-burung Manyar (1981) ,Darman Moenir
      Bako (1983) ,Dendang (1988).
    • Budi Darma :Olenka (1983) ,Rafilus (1988).
    • Sindhunata :Anak Bajang Menggiring Angin (1984).
    • Arswendo Atmowiloto :Canting (1986).
    • Hilman Hariwijaya :Lupus – 28 novel (1986-2007) ,Lupus Kecil – 13 novel (1989-2003) ,Olga Sepatu Roda (1992) ,Lupus ABG – 11 novel (1995-2005).
    • Dorothea Rosa Herliany :Nyanyian Gaduh (1987) ,Matahari yang Mengalir (1990)
      Kepompong Sunyi (1993) ,Nikah Ilalang (1995) ,Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999).
    • Gustaf Rizal :Segi Empat Patah Sisi (1990) ,Segi Tiga Lepas Kaki (1991) ,Ben (1992) ,Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999).
    • Remy Sylado :Ca Bau Kan (1999) ,Kerudung Merah Kirmizi (2002).
    1. Sastra Reformasi
    Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang “Sastrawan Angkatan Reformasi”. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
    Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra — puisi, cerpen, dan novel — pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.
    Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya “Sastrawan Angkatan 2000″. Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany. Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi :
    • Ayu Utami : Saman (1998) ,Larung (2001).
    • Seno Gumira Ajidarma :Atas Nama Malam ,Sepotong Senja untuk Pacarku ,Biola Tak Berdawai.
    • Dewi Lestari :Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001) ,Supernova 2.1: Akar (2002) ,Supernova 2.2: Petir (2004).
    • Habiburrahman El Shirazy :Ayat-Ayat Cinta (2004) ,Diatas Sajadah Cinta (2004) ,Ketika Cinta Berbuah Surga (2005) ,Pudarnya Pesona Cleopatra (2005) ,Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007) ,Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007) ,Dalam Mihrab Cinta (2007)
    • Andrea Hirata :Laskar Pelangi (2005) ,Sang Pemimpi (2006) ,Edensor (2007)
      Maryamah Karpov (2008).














    • Digg
    • Del.icio.us
    • StumbleUpon
    • Reddit
    • RSS

    0 komentar:

    Poskan Komentar