RSS

Apresiasi Prosa Fiksi

APRESIASI PROSA FIKSI
Cerpen Pemburu Air Mata (Harian Kompas)
1. Fakta Cerita
a. Alur : Campuran (Maju-Mundur)
• Alur Maju
 Begitulah desaku begitu damai dan nyaman penuh berkelimpahan dengan air mata. Paragraf 5.
 Awalnya terjadi dari kedatangan salah satu warga yang sudah lama merantau….dst. Paragraf 7.
 Sejak saat itu, terjadilah proses penghentian besar-besaran air mata oleh para lelaki di desa itu. Paragraph 6.
 Dsb.

• Alur Mundur
 Konon komposisi ini pernah ditawar slah satu produser besar dari ibu kota, tetapi si seniman itu tidak melepaskan karena si produser tidak bias mengeluarkan air mata. Paragraph 4.
 Mereka sangat merindukan waktu lalu,
 Dsb.
Hal diatas menunjukkan bahwa cerpen pemburu air mata beralur campuran. Pengarang menceritakan dari awal kemudian mundur lalu maju lagi.
b. Tokoh dan Penokohan
 Tokoh

Aku : pelaku utama protagonis
Lelaki perantau : pelaku sampingan antagonis
Kepala desa : pelaku sampingan
Warga laki-laki : pelaku sampingan
Warga wanita : pelaku sampingan


 Penokohan
Aku : seorang warga desa Jaganmantri yang sangat bangga cinta dan peduli terhadap desanya. Buktinya adalah si pengarang menceritakan tokoh aku dengan banyak memuji-muji desanya sendiri,dan sangat peduli dengan keadaan dan perkembangan desanya. Penggambaran tokoh aku ini adalah pelaku utama yang protagonis.
Lelaki perantau : pelaku sampingan yang antagonis dan menimbulkan konflik. Ia merupakan lelaki penghasut. Buktinya adalah ia menghasut agar lelaki itu tidak menangis. Sehingga menimbulkan permasalahan pada dsea tersebut.
Kepal desa : seorang yang bijaksana. buktinya
Warga laki-laki : pelaku sampingan yang penurut dan mudah percaya. Buktinya adalah ketika lelaki perantau mengatakan bahwa lelaki itu tidak boleh menangis, tanpa pikir panjang mereka pun tidak menangis lagi.
Warga Perempuan : pelaku sampingan yang sabar. Buktinya adalah meskipun lelaki tidak mau menangis lagi, wanita-wanita tetap sabar untuk menghasilkan air mata dan tetap bekerja keras tanpa bantuan lelaki.

c. Latar
Latar tempat terjadi cerita adalah di sebuah desa Jaganmantri. Paragraf 1.
Latar waktu terjadi cerita adalah di suatu senja (paragraf 5). Pagi (paragraf 2). Malam (paragraf 1).


2. Sarana Cerita
a. Judul : Pemburu Air mata
b. Sudut Pandang : Aku, karena dalam penceritaan si pengarang menggunakan kata ganti orang pertama “aku”.
c. Gaya Bahasa dan Nada : Dalam menceritakan cerita, si pengarang menggunakan nada yang santai tapi menjadikan pembaca merasa terbawa oleh suasana yang digambarkan. Namun dalam penggunaan bahasa sangat sulit dipahami dan dimengerti. Bahasanya tidak menarik. Gaya bahsa yang digunakan pebgarang sangat banyak diantaranya adalah :
Majas personifikasi :
1. Setiap pagi saat matahari pertama kali menyetubui bumi. Paragraf 2 kalimat kedua.
2. Seperti selendang para bidadari beterbaran di langit yang begitu tampak selalu tertawa. Paragraf 2 kalimat ketiga.
3. Alam raya ini menangis. Paragraf 5 kalimat keenam.
4. Saat matahari mulai membakar kaki langit dengan ujung-ujung lidah apinya sehingga langit berubah kemerahan. Paragraf 5 kalimat keenam.
Majas perumpamaan atau asosiasi :
1. Gunung yang kontur tanahnya menyerupai payudara ranum ibu yang baru melahirkan itu benar-benar cantik. Paragraf 1 kalimat kelima.
2. Kilau itu bermunculan warna warni seperti pelangi yang menyilaukan memantul ke angkasa. Paragraf 2 kalimat kedua.
3. Air mata adalah nafas seperti detak jantung yang berdentam setiap detik. Paragraf 3 kalimat ketujuh dan kedelapan.
Majas hiperbola :
1. Terkadang gemerisik angin terlembut pun entah kenapa tetap selalu membuat helaan nafas menjadi berat.
2. Membuat hati orang-orang di desaku menjadi orang kuat luar biasa. Paragraf 5 kalimat ketiga.
3. Sungguh, kalimat itu seperti angin puting beliung yang merontokkan semua peradapan dalam satu helaan nafas.
Majas litotes :
1. Orang-orang sederhana dengan air mata yang bercucuran ternyata membuat hati orang-orang di desaku menjadi orang-orang kuat luar biasa. Paragraf 5 kalimat ketiga.
Majas Repetisi :
1. Kesunyian yang begitu menyayat. Kesunyian yang melahirkan pekat.
Majas antiklimaks : mulia dari jalan desa, rumah-rumah, bahkan beberapa baju yang dipakai beberapa penduduk terbuat dari pintalan warna warni Kristal air mata


d. Tema dan amanat :
Pengarang mengangkat tema kebahagiaan. Denagn amanat di dalmnya yaitu tidak semua air mata yang kita keluarkan itu mengandung kesedihan tetpi tidak jarang pula bahkan banyak yang mengeluarkan airmata karena bahagia, rasa syukur dan terharu. Si pengarang juga berusaha mengungkapkan bahwa laki-laki tidak seperti dulu yang bias menangis dan selalu membantu wanita semua pekerjaan di selesaikan tidak peduli itu pekerjaan perempuan atau pun pekerjaan laki-laki. Namun, kini laki-laki hanya melakukan pekerjaan laki-laki saja, mereka merasa lebih kuat, hingga membiarkan wanita mengerjakn pekerjaannya sendiri, hal itu menimbulkan susah pada para wanita. Dan hilangnya kebahgiaan karena lelaki yang

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar